Rabu, 08 Juli 2009

Analisa dan Evaluasi pilpres 2009

Hasil survei pilpres putaran 1 telah menunjukkan kemenangan pasangan SBY-Boediono dengan angka 60% yang berarti hanya melalui 1 putaran. Di tempat kedua ada Megawati-Prabowo dengan 27% dan JK-Wiranto dengan 12% suara. Hasil akhir pilpres ini mencerminkan tidak adanya perbaikan dari pileg bulan april lalu. Meskipun ada perbaikan dalam masalah tidak tercantumnya nama di DPT (yang diselesaikan dengan penggunaan KTP), tetapi masih banyak pemilih yang mendapat 2 undangan DPT atau DPT ganda. Selain itu masih banyak dalam daftar DPT yang ternyata sudah wafat atau di bawah umur.

Pemakaian KTP sebagai solusi sementara pun hanya eksperimen gagal, mengingat banyaknya orang dengan KTP ganda dan tidak ditambahnya persediaan surat suara. Hal ini jelas mengakibatkan tidak adanya perbedaan signifikan kualitas pilpres saat ini dengan Pemilu april lalu. Secara jelas dapat dikatakan bahwa KPU 2009 ini adalah KPU terburuk dari 3 KPU yang ada dalam era reformasi, sejumlah pihak menuding ini kesalahan DPR tetapi kenyataannya seleksi awal KPU dilakukan di Depdagri yang notabenenya adalah bagian dari pemerintahan saat ini. Dan harus diperhatikan bahwa calon2 terbaik justu gagal di seleksi awal.

Hasil akhir quick count yang menempatkan pasangan no 2 dengan angka 60% pun dapat dianggap tidak masuk akal. Di berbagai tempat ditemukan sejumlah surat suara yang sudah dicentang di angka 2, selain itu ada seorang oknum di papua yang dapat membawa 5 surat suara sekaligus. Secara logika ada hal2 yang tdk masuk logika, patut dipertanyakan bagaimana cara pasangan no 2 menang 90% di Aceh? yang selama ini sangat sulit dimenangkan bahkan oleh Golkar jaman Soeharto sekalipun, lalu kekalahan tipis no 2 di Bali yang hanya selisih 1 % suara dengan Megawati yang selama ini begitu dominan di Bali. Selain itu kekalahan JK di pulau sumatera yang hampir dapat dikatakan abnormal. Bagaimana bisa JK hanya mendapat 12% di Sumbar yang merupakan basis Golkar dan bahkan tertinggal dari megawati yang mendapat 17%? Hal ini tidak hanya terjadi di seluruh Sumatera, tp juga Papua dan Sulawesi barat yang merupakan basis golkar.

Sebelumnya saya memperkirakan JK mendapat setidaknya 25% suara, Mega mendapat 23% dan SBY 46%. Suara JK dapat dihitung dari suara dari Golkar yang katakanlah mendukung JK sebesar 10% dan Hanura 3%. Ini belum lagi ditambah dukungan NU dan Muhammadiyah sebagai ormas Islam terbesar, penampilan memukau JK dalam berbagai sesi debat dan dukungan sejumlah anggota partai lain. Lalu darimana suara ini berubah? Boleh dikatakan tidak ada perubahan berarti dlm suara Mega-Pro, ini dapat disebabkan ketakutan mengutak-atik perolehan suara Mega-Pro karena adanya sosok Prabowo emosional dan bisa saja melakukan aksi anarkis atau bahkan kudeta jika dirinya dicurangi. Selain itu tampaknya apabila 2 putaran SBY-Mega maka jelas pemenangnya adalah SBY karena pendukung JK akan berpindah ke SBY dibanding ke Megawati.

Maka suara yang diambil adalah suara pasangan JK-Win yang dianggap tidak emosional dan justru dapat menang di putaran kedua, karena pendukung Megawati lebih mudah diarahkan ke JK dibanding ke SBY. Selain itu berdasarkan pengalaman pemilu legislatif, ternyata banyak bupati dan gubernur yang terkait kasus korupsi diancam untuk memenangkan partai no 31 jika tidak ingin kasusnya dibongkar. Bukan tidak mungkin hal ini terjadi lagi dalam pilpres kali. Apa lagi jika dibandingkan dengan Pilpres 2004 yang diawasi pihak asing, pemilu 2009 ini boleh dikatakan minim pengamat asing dan memungkinkan terjadinya kecurangan.

Lalu apa hal2 yang mungkin terjadi selanjutnya dalam pentas politik Indonesia? Hal yang paling pasti adalah mundurnya JK sebagai Ketua Umum Golkar yang kemungkinan besar akan diperebutkan Aburizal Bakrie dan Surya Paloh. Kemudian adanya gugatan pemilu yang mungkin saja dilayangkan Prabowo Subianto yang terkenal emosional, hal ini dapat memancing kerusuhan politik seperti yang terjadi di Iran. Satu kejadian yang mungkin menjadi kejutan adalah jika Megawati Soekarnoputri mundur dari Ketua Umum PDIP. Semua hal diatas dapat merubah konstelasi politik yang ada dan tampaknya permasalahan politik belum akan berakhir sampai Oktober 2009

Tidak ada komentar: